Adsense

Showing posts with label Cerita Serta Kisah SNMPTN. Show all posts
Showing posts with label Cerita Serta Kisah SNMPTN. Show all posts

Sunday, November 22, 2015

Cerita Pengamen Depok yang Lulus Masuk Universitas Indonesia

DEPOK, KOMPAS.com — Dodo baru saja turun dari angkot T-19 jurusan Terminal Depok-Terminal Kampung Rambutan. Tiba-tiba saja seorang petugas satpol PP berbadan besar menghadangnya. Petugas lalu membacakan peraturan daerah tentang pengamen.


Ia langsung sadar, hari itu adalah hari naasnya. Pemuda 21 tahun itu sempat berpikir untuk lari, tetapi gitar pinjaman merek Yamaha yang ia tenteng membuatnya berpikir dua kali untuk kabur. 

Ia takut saat melarikan diri, gitar pinjaman yang harganya tidak murah itu akan rusak. Akhirnya, ia memilih pasrah.

Rabu (8/7/2015) pagi itu, sekitar pukul 08.00 WIB, di Jalan TB Simatupang, tepatnya di pertigaan Caglak, Pasarebo, Jakarta Timur, ia dipaksa naik mobil bak terbuka milik satpol PP. 

Ia dan sejumlah pengamen lainnya dibawa langsung ke panti sosial di kawasan Ceger, Cipayung, Jakarta Timur. Untuk kali pertama setelah bertahun-tahun mengamen, Dodo diamankan petugas satpol PP.

Setibanya di panti, semua orang yang terjaring razia, termasuk Dodo, didata oleh petugas. Ia ditanya seputar profesinya sebagai seorang pengamen jalanan, mulai dari wilayah operasi, hingga peruntukan uang hasil mengamen. 

Laki-laki bernama lengkap Dzulfikar Akbar Cordova itu menerangkan kepada petugas bahwa ia baru lulus dari SMA Master, Depok, Jawa Barat, dan tengah menunggu hasil seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN).

"Saya ikut SNMPTN, saya mengamen untuk jaga-jaga bayar kuliah, kalau saya masuk UI," katanya.

Dodo tidak bohong. Pada Kamis (9/7/2015) sore sekitar pukul 17.00 WIB, hasil ujian SNMPTN diumumkan, dan ia merupakan salah satu peserta seleksi. 

Ia memilih Program Studi Ilmu Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (UI), sebagai pilihan pertama, dan Program Studi Arkeologi, Fakulitas Ilmu Pengetahuan Budaya, UI, pada pilihan kedua.

Tetap ditahan

Namun, informasi yang ia sampaikan kepada petugas tidak dapat menolongnya. Dodo tetap ditahan. Ia ditahan di barak bersama sekitar empat puluh pengamen lainnya. 

Barak tersebut dilengkapi dengan jeruji besi di jendela dan di pintu. Lokasinya berada satu kompleks dengan barak tempat penyandang masalah kejiwaan. 

Ruang geraknya dibatasi bak seorang tahanan. Gitar pinjaman yang ia bawa dirampas petugas.

Beruntung, Dodo masih diizinkan membawa handphone. Ia kemudian memberitahukan kepada teman-temannya bahwa ia ditahan satpol PP. Namun, hari itu, orang-orang yang ia harapkan bisa menolongnya tidak kunjung datang.

Pada Kamis pagi, ia sempat memberi tahu kepada salah seorang petugas perempuan bahwa sorenya akan ada pengumuman SNMPTN. Ia menanyakan kepada sang petugas, apakah ia bisa diberi kesempatan untuk menggunakan komputer yang memiliki akses internet. 

Dodo ingin tahu apakah ia lolos ujian. Petugas itu mengatakan, Dodo boleh menggunakan salah satu komputer di kantor panti. "Iya pakai saja, di kantor ada kok komputer," ujar perempuan tersebut.

Namun menjelang pukul 17.00 WIB, perempuan itu sudah telanjur pulang sebelum memenuhi janjinya. Dodo juga tidak bisa memanfaatkan akses internet dari handphone-nya untuk melihat hasil SNMPTN karena masalah baterai. Ia akhirnya pasrah.

Lulus masuk UI

Selepas maghrib, sekitar pukul 18.00 WIB, dari grup WhatsApp yang berisi siswa-siswa SMA Master, ia menerima informasi yang menggembirakan. 

Salah seorang anggota grup menginformasikan bahwa ada tiga siswa SMA Master yang lolos masuk perguruan tinggi negeri (PTN), salah satunya adalah Dodo. Ia tercatat lolos masuk Program Studi Ilmu Ekonomi Islam.

Tak lama setelah informasi tersebut beredar, ia mendapat panggilan telepon dari temannya sesama lulusan SMA Master yang lolos masuk UI. 

Temannya itu memberitahukan informasi yang sama bahwa Dodo lulus ujian. Dodo diajak bertemu, dan bersama-sama mengurus persyaratan sebagai calon mahasiswa UI. Temannya itu belum tahu situasi Dodo, dan terkejut mendengar jawabannya. "Gue masih ditangkap satpol PP nih," ujarnya.

Malam itu juga, Dodo sempat memberitahukan kepala barak soal kesuksesannya itu. Ia bertemu sang kepala barak saat hendak menuju masjid untuk menunaikan ibadah shalat tarawih, dengan niat agar sang kepala barak bisa mempermudah kepulangannya. 

"Pak, saya lolos SNMPTN, masuk UI," kata Dodo kepada sang petugas.

Sang kepala barak dengan nada tak acuh hanya menjawab, "Sudah, kamu shalat tarawih saja dulu." Dodo lalu melanjutkan langkahnya ke masjid untuk menunaikan shalat.

Pada Jumat (10/7/2015) siang, Dodo akhirnya dibebaskan setelah dua malam ditahan di panti. Sejumlah guru dari SMA Master, Depok, akhirnya menyambangi Dodo ke panti, dan mengurus segala sesuatu terkait pembebasannya. 

Hari itu juga, Dodo mulai mengurus persyaratan untuk masuk kampus. (Nurmulia Rekso Purnomo)


Sumber :


http://megapolitan.kompas.com/read/2015/07/26/15491251/Cerita.Pengamen.Depok.yang.Lulus.Masuk.Universitas.Indonesia

Monday, July 13, 2015

Keyakinan Membawa Berkah : Mimpi Seorang Siswa Masuk PTN

Keyakinan Membawa Berkah : Mimpi Seorang Siswa Masuk PTN - Mohon pikirkan sejenak soal tersebut, pernahkah anda merasa jawaban soal tersebut salah?. Pasti kita berpikir bahwa apabila 1 dibagi setengah pasti jawabannya adalah 2. Sebuah soal plus jawaban tersebut adalah awal dari sebuah kisah nyata yang akan kita bahas kali ini.
               Seseorang siswa dari salah satu SMA di Jakarta lah yang menjawab soal plus jawaban tersebut. Saat itu, ia dipertemukan dengan seorang guru Fisika. Ketika pertama kali bertemu, sang guru langsung menyodorkan soal tersebut dan meminta murid untuk menjawabnya. Lantas, sang murid langsung menjawab dengan hasil seperti itu, hasilnya setengah. Sang guru pun kaget, ia merasa sedih sekali. Bagaimana bisa seorang siswa yang telah duduk di kelas 3 SMA, menjawab soal seperti itu saja salah. Pak guru sampai geleng-geleng kepala.

Sang guru kemudian menanyakan satu hal, karena siswa tersebut sudah kelas 3.
Guru      : Nak, nanti kamu ingin melanjutkan kuliah di jurusan apa?
Siswa     : Saya ingin sekali masuk FTTM ITB Pak.
               Sang guru pun awalnya sangat kaget dan hampir tak percaya. Seorang anak yang tidak bisa mengerjakan soal sepele seperti itu berniat untuk kuliah di ITB…? ibaratnya seperti maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai… dan sejenak sang guru berpikir…
“Ya ALLAH… ubahlah pilihan anak ini…”
               Namun.. entah mengapa pandangan sang guru seolah menjadi berubah drastis ketika mendengar ucapan dari sang murid.
Siswa     : Pak, mungkin memang saya tidak pintar… tapi saya ingin bisa.. saya mau belajar Pak..
Sang guru menghela napas panjang dan kemudian tersenyum… seolah amat yakin dengan semangat anak tersebut..
Guru      : Baiklah, ayo kita usahakan bersama.
                Akhirnya, setiap hari murid tersebut harus menjalani program belajar ekstra di lembaga bimbingan tempat sang guru mengajar. Ia tercatat sebagai siswa yang datang paling awal dan pulang paling akhir, hingga malam hari. Ia bersyukur karena sistem pembelajaran di Lembaga tersebut tidak hanya sistem belajar di kelas saja, tetapi juga ada jam diskusi di luar kelas. Adanya sistem tersebut membuat siswa dapat belajar kapan saja sehingga ia bebas belajar tambahan hingga paham. Ya… tiap hari ia datang dan pulang hingga larut malam. Bisa dibayangkan, setelah belajar di sekolah, ia harus belajar kembali di tempat lain untuk mengulang materi-materi pelajaran. Rasanya pasti lelah sekali, lelah raga dan bisa jadi lelah pikiran juga.
                Hingga pada saat ujian SNMPTN jalur undangan, sistem penerimaan mahasiswa baru menggunakan raport tiba. Ia harus menerima kenyataan bahwa ia tidak diterima, karena memang nilai raportnya kelas 1 dan 2 hancur lebur… bahkan ia pernah masuk peringkat 5 besar paling bawah di kelasnya. Ketika pengumuman itu tiba, ia memang sudah bisa menebak, sudah menyadari akan hal itu. Sehingga ia merasa tak kecewa, melanjutkan program belajar intensif tetap ia jalani untuk tes-tes selanjutnya.
                Hingga pada saat pengumuman tes SBMPTN, sistem penerimaan lewat jalur tes tiba. Semua sontak merasa kaget, termasuk dirinya sendiri. Ia tercatat sebagai salah satu siswa yang diterima di FTTM ITB. Banyak yang merasa heran dan tidak percaya, apalagi teman-temannya, rasanya benar-benar seperti tidak masuk akal. Saat mengetahui hal tersebut, tak terasa linangan air mata sudah membasahi wajah sang guru.
Bila diibaratkan perasaan sang guru saat itu, ilustrasinya seperti ini :
                Saat kita melihat film 3 idiot, di bagian akhir cerita Virus memberikan bulpoint istimewa kepada seorang murid yang begitu hebat dan spesial, yakni Rancho. Nah, sang guru pun merenung sejenak… baru kali ini ia menemukan murid yang begitu luar biasa. Luar biasa karena kesungguhan hatinya, karena usahanya, dan juga kesederhaannya…
                Sebenarnya saya juga turut bersyukur karena dapat mendengar kisah ini langsung dari sang guru tersebut. Semenjak bulan januari 2013, sang guru ditugaskan di Surabaya untuk pembukaan cabang Lembaga baru, tempat saat ini saya menjalani training kerja. Ya… sampai sekarang Pak guru juga masih sering kontak dengan siswa tersebut. Ia seolah menjadi inspirasi bagi pak guru untuk membimbing siswa-siswa dan meyakinkan mereka bahwa di balik niat yang sepenuh hati, di dalamnya pasti ada jalan. Alhamdulillah…
                Mengutip sebuah pernyataan inspiratif yang tertempel di salah satu papan pengumuman di lembaga ini, sebuah penyataan yang penuh makna di dalamnya…
                “Begitu banyak orang yang menganggap kesuksesan adalah keberuntungan. Tetapi belum banyak yang memahami bahwa sesungguhnya keberuntungan adalah kerja keras.”
Sekian kisah ini, mohon maaf bila terdapat ucapan yang kurang berkenan di hati kawan-kawan…
semoga bermanfaat… :)

Cerita Masuk PTN : Sepenggal Cerita Perjuangan Demi Masuk PTN

Cerita Masuk PTN : Sepenggal Cerita Perjuangan Demi Masuk PTN  -
Posted by : Taofik Hidayat Dinata
Hai, gue Taofik Hidayat. Ini pertama kalinya gue nulis-nulis tentang gue di blog. Gue mau sedikit cerita tentang perjuangan gue buat masuk perguruan tinggi negeri.
Yang pertama ada SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri), nah jalur yang ini biasa juga disebut jalur undangan. Jalur ini cukup pake nilai raport semester 1-5 jadi harus atas rekomendasi sekolah, jadi kita ga bisa tuh daftar sendiri-sendiri. Perjuangan gue di jalur ini lumayan lah bisa dibilang melelahkan, gue sekolah di SMK swansta di Jakarta, bisa dibilang sekolah gue abal-abal, murid-muridnya hobi tawuran, berandal-berandal semua, jadi baru kali ini nih ada siswa kaya gue yang pengen (ngebet) banget kuliah di PTN, sebelum-sebelumnya gak ada satupun yang kaya gue, rata-rata setelah lulus langsung kerja. Perjuangan gue dimulai saat Negara api menyerang wkwkwk, bukan bukan itu. Perjuangan gue dimulai dari ngajuin sekolah buat ikut SNMPTN, siapa tau aja ada juga siswa yang kaya gue. Ngajuinnya gimana ? Gak segampang membalikkan telapak tangan, butuh perjuangan ekstra. Pertamanya gue curhat tuh sama guru BK, kebetulan gue akrab banget sama guru BK. Awalnya sih pihak sekolah kaya yang gak mau bantuin gue. Tiap hari gue bolak-balik ke BK buat curhat, sampe akhirnya guru BK gue mau bantuin buat ngajuin ke kepsek. Udah sampe segitu aja ceritanya ? Belum, ini baru setengahnya. Setelah pihak sekolah setuju, tiap hari gue bolak-balik BK sama guru produktif. Yang input data bukan kepsek tapi guru produktif, soalnya kepsek gak mau tau. Tiap hari gue nyari-nyari informasi cara daftarnya gimana, informasi tentang universitasnya dimana aja, jadi setiap dapet informasi gue langsung ke BK ngasih tau infonya ke guru BK, ntah mungkin guru BK udah enek kali liat muka gue, tiap hari bolak-balik mulu ke BK. Sialnya, pas mau daftar ternyata universitas di Jakarta yang merima siswa SMK cuma UNJ, itupun Cuma 5 prodi dan semuanya gak ada yang gue minati. Oh iya, gue anak smk tapi kepengen banget jadi guru matematika, gue berharap banget bisa masuk prodi Pendidikan Matematika, dan gak ada prodi lain yang gue minati selain itu. Alhasil, gue coba daftar di UPI prodi pendidikan matematika sama UNJ prodi pendidikan teknik informatika, meskipun prodi itu gak gue minati. Atas perjuangan gue ini, banyak siswa yang mau ikut daftar SNMPTN.
Nah yang kedua ada SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri), jalur yang ini bisa disebut jalur tes. Awalnya sih gue gak ada rencana ikut jalur ini. Loh kenapa ? gue anak SMK, SBMPTN ini soal buat tesnya pake pelajaran SMA, mana sampe otak gue belajar pelajaran SMA dalam waktu singkat. Pasrah aja lah, kalo gak lolos SNMPTN gue mau ambil swasta aja. Tapi ada satu nih yang bikin gue berubah pikiran, dia mahasiswa UNJ. Waktu itu ada acara Open House di UNJ, ah kesempatan buat kepoin mahasiswa nih kata gue. Nah disini gue ketemu sama mahasiswa dari prodi pendidikan matematika, gue kepoin abis tuh orang. Di sela pembicaraan, gue nanyain tentang SBMPTN, kebetulan dia juga dulu lolosnya lewat jalur SBMPTN, gue sedikit curhat deh tuh tentang nasib gue sebagai siswa SMK. Dia sedikit ngasih solusi tuh, kata dia “gue aja nih ya, ngisi soal SBMPTN ga semuanya gue isi, bla… blaa… blaaa…, triknya buat ngisi soal SBMPTN itu . . . . blaa blaaa blaaa”. Wah keren nih orang, kata gue. Informasi yang dia kasih ke gue bikin pemikiran gue berubah derastis, yang tadinya gak minat ikut SBMPTN sekarang jadi prioritas utama gue.
Cerita Masuk PTN : Sepenggal Cerita Perjuangan Demi Masuk PTN  -
Dari awal gue emang gak yakin sama SNMPTN, makannya setelah gue dapet informasi dari mahasiswa itu, gue langsung tuh cari-cari soal SBMPTN, beli buku panduan SBMPTN. Cuma itu perjuangan lu di SBMPTN ? Nggak lah, ini baru awal. Terus perjuangan lu apa lagi ? Sabar vrooh gue inget-inget dulu.
Nah gue inget niiih. Gue belajar otodidak, cuma ngandelin soal-soal yang gue download dari internet. Sempet minta dana sih sama orang tua buat beli buku panduan, lumayan dari buku itu banyak ilmu yang gue dapet. Tapi sepinter-pinternya, gue Cuma anak SMK yang bingung gimana cara belajar pelajaran SMA IPA dalam waktu singkat. Gila aja, udah belajar otodidak, gaada buku buat tunjangan lagi mana ngerti gue pelajaran SMA IPA. Tapi gue gak nyerah gitu aja, gue coba ngelobi Bu Dwi guru matematika di sekolah gue, padahal kenal sama gue aja kaga soalnya dia guru baru, terus gak ngajar di kelas gue. Gue berani-beraniin aja tuh minta tolong sama dia, untungnya dia guru yang cepet akrab sama muridnya. Dia mau ngajarin gue tapi cuma matematika SMA doang, ah lumayan lah kata gue daripada nggak sama sekali. Gak Cuma disini loh rintangannya, setelah malu-malu minta diajarin sama Bu Dwi, gue harus minta izin ke pihak sekolah supaya pihak sekolah ngizinin. Agak ribet sih, bolak-balik ruang guru tapi untungnya diizinin. Berkat usaha gue, gue sama siswa lain yang ikut SBMPTN bisa ikut belajar bareng meskipun ga banyak. Tapi jujur, gue gak ngerti apa yang dia ajarin, maklum lah ini kan matematika SMA, tapi ada kok yang nempel-nempel dikit di otak. Gue belajar sama Bu Dwi Cuma 4 kali dalam waktu sebulan. Sebenernya sih gak enak sama Bu Dwi, masa udah minta diajarin tapi gak ngasih upah. Untung dia gak ngarepin hahaha. . . .
Dari usaha-usaha gue ini, Alhamdulillah dapet banyak temen dari sosial media. Agak iri sih sama mereka, yang anak SMA tinggal mempelajari materi-materi sebelumnya, ada yang anak SMK tapi ikut bimbel, lah gue ?
Tiap hari gue bergelut sama soal-soal yang gue ga ngerti sama sekali, ngerti sih dikit di matematikanya tapi di kimia, fisika, sama biologi gue gelaaap banget, gak ngerti sama sekali. Dari pagi sampe malem ya cuma maen sama soal-soal itu, ikut-ikut try out online di social media, sampe try out Nasional yang diadain di berbagai kota. Dari try out ke try out sih lumayan tuh nilai gue berkembang terus, udah pede aja tuh gue bisa lolos SBMPTN.
Sampe nih di hari H tes SBMPTN, waktu itu Jakarta dingin banget tapi pas buka soal SBMPTN tiba-tiba aura penas keluar, gak lama kemudian gue keringetan hahaha keren kan ?
Dari sekian banyak soal-soal yang gue pelajari, yang muncul cuma beberapa bahkan ada satu jenis soal yang sama sekali belum gue pelajari. Ah gak yakin gue sama hasil kerja gue, mana prodi yang gue pilih itu termasuk prodi favorit. Yang gue bingung, kebanyakan siswa gak suka matematika tapi kenapa di universitas, jurusan matematika itu jadi jurusan favorite, banyak banget peminatnya.
Dicepetin aja ya ceritanya. Setelah nunggu beberapa minggu, tiba nih hari pengumuman. Aih dari semalemnya feeling gue udah gak enak aja, gue gelisah, galau, mellow hahaha. Bahkan sejam sebelum pengumuman gue sampe gemeteran, buka laptop udah kaya kakek-kakek. Gue buka tuh webnya, udah mau ngecek tapi server down, makin gelisah aja tuh gue, beberapa saat kemudian gue cek lagi dan hasilnya . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Anda tidak lolos SBMPTN 2014. Aaaaaaaaaah gilaaaa nyesek banget gue, udah berusaha keras tapi dapet hasil nol. Ah terpaksa gue harus nunggu SBMPTN tahun depan. Eh tapi rencananya mau ikut Ujian Mandiri dulu, kalo lolos berarti ceritanya cukup sampe disini, kalo gak lolos nanti ada sekuelnya hahahaha.
Oh iya, ada mitos kalo pinter itu ga menjamin lo bisa lolos SBMPTN, bahkan lo bisa kalah sama orang yang kuarang pinter dari lo, dan itu fakta.
Cerita Masuk PTN : Sepenggal Cerita Perjuangan Demi Masuk PTN  -
Banyak juga yang rajin belajarnya, ibadahnya, berdo’anya tapi gak lolos, malah yang males-malesan, yang jarang-jarang ibadahnya, berdo’anya bisa lolos. Naah gue mau ngasih pencerahan nih disini, missal kalo ada pengamen yang dandanannya compang camping, suaranya ga jelas banget, tampilannya jelek, pasti lu bakal langsung ngasih duit dan nyuruh itu pengamen pergi. Beda kalo tampilan pengamennya rapi, suaranya merdu, pasti lu rela buat dengerin dulu itu pengamen nyanyi sampe selesai baru ngasih duit. Dan bedanya lagi, kalo pengamen jenis pertama lu ngasih duit paling 500-1.000, kalo buat pengamen jenis kedua duit 10.000 juga pasti rela lu keluarin. Intinya ? lo simpulin aja sendiri !!! hahaha. . . . . . . . .
Nih intinya, anggap kita yang gak lolos SBMPTN sebagai pengamen jenis kedua, meskipun harus menunggu lama tapi bisa jadi rezeki yang kita dapet lebih besar dari mereka yang tidak menunggu lama (yang lolos SBMPTN 2014).
Cukup sekian aja dulu deh ya, do’ain gue supaya bisa lolos Ujian Mandiri biar bisa bikin essay yang temanya beda, biar lo lo pada ga bosen bacanya hahahaha, oh iya sorry kalo bahasanya kurang sopan tapi inilah gue.
 
Terimakasih : Cerita Masuk PTN : Sepenggal Cerita Perjuangan Demi Masuk PTN  -

Saturday, July 11, 2015

Kisah haru Indra Herdiana, pernah empat kali gagal ikut seleksi PTN

Brilio- Hari ini, Sabtu (9/5), adalah hari yang sangat menentukan bagi para siswa-siswi SMA. Sebab, pengumuman siapa saja yang berhasil lolos SNMPTN akan segera diumumkan. Bagi yang diterima tentunya akan bersorak gembira. Namun bagi yang gagal tentu saja akan menyesakkan hati.

Namun jangan jadikan kegagalan tersebut menjadi sesuatu yang membuat kamu tambah down. Kamu harus mencontoh kegigihan Indra Herdiana. Mahasiswa ini tetap bangkit terus dan terus meski mengalami berbagai kegagalan saat mengikuti ujian seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN).


"Saya gagal total ada 4 kali, SNMPTN 2013, PBUTM UGM 2013, SBMPTN 2013, SIMAK UI 2014. Saya baru keterimanya di SBMPTN 2014," kata Indra kepada brilio.net, Jumat (8/5).

Awalnya pria asal Banjar, Jawa Barat, ini memilih jurusan Teknik Informatika Unpad, Matematika Unpad, Perencanaan Wilayah dan Kota ITS, Matematika ITS pada SNMPTN 2014. Namun sayang dia tetap saja gagal. Meski begitu Indra merasa tidak terlalu kecewa karena ini permulaan, masih ada SBMPTN.

Bangkit dari kegagalan tersebut, Indra mulai mengasah kemampuannya dengan banyak mengerjakan soal-soal tahun lalu baik dari buku maupun internet. Namun tetap saja Indra harus menelan pil pahit karena lagi-lagi tak lolos SBMPTN 2013.

"Pas gagal sangat terpuruk soalnya saya sangat berharap dengan seleksi ini. Selain sedih, saya juga malu terhadap orangtua, serasa mengecewakan mereka. Apalagi ditambah saya juga kembali tidak lolos di ujian masuk UGM, rasanya semakin terpuruk sekali," ujarnya.

Akhirnya Indra memutuskan untuk istirahat setahun dan mengikuti bimbel. Diakuinya, dia harus berpikir keras mencari bimbel yang murah meriah mengingat kondisi finansial orangtuanya yang hanya seorang sopir dan tukang sayur.

"Pernah saat mau masuk intensif SBMPTN 2014, saya terancam tidak bisa lanjut bimbel karena pihak sana meminta melunasi seluruh pembayaran, padahal uang masih pas-pasan. Namun Ayah saya bilang, 'Tidak apa-apa dek, lanjut saja, Ayah bayar nanti, sudah nangggung, sebentar lagi'," kenang Indra.

Berkat dukungan dari orangtuanya tersebut, Indra berhasil lolos SBMPTN 2014 di jurusan Matematika Unpad lewat jalur bidikmisi. Indra menuturkan, dari kegagalannya tersebut membuatnya belajar untuk menjadi orang yang tidak setengah-setengah dalam melakukan pekerjaan dan terus gigih mengusahakan cita-citanya.

Tuesday, March 17, 2015

Cerita Perjuangan Kelas XII menghadapi SNMPTN 2014

Cerita Perjuangan Kelas XII menghadapi SNMPTN 2014  - by Yusuf Ananda
Selamat pagi/siang/sore/malam semuanya! Gue kembali lagi setelah menceritakan pengalaman gue melewati salah satu event yang krusial di kelas XII, yaitu Ujian Nasional. Kalian bisa baca pengalaman gue melewati UN 2014 di Cerita Perjuangan Kelas XII: Ujian Nasional SMA 2014 :)
Nah, setelah menceritakan pengalaman gue melewati Ujian Nasional dan lulus SMA dengan nilai memuaskan, gue mau berbagi pengalaman gue lagi nih melewati dua event yang sangat-sangat krusial di SMA karena kalau kalian mau masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri), kalian harus melewati event ini. SNMPTN dan SBMPTN. Perjuangan melewati SNMPTN dan SBMPTN gak kalah berat dari perjuangan melewati UN, bahkan lebih berat. Kenapa gue bisa bilang lebih berat? Karena SNMPTN dan SBMPTN itu prinsipnya untuk menyeleksi, sedangkan UN prinsipnya untuk evaluasi. Kita harus bersaing dengan semua anak kelas XII di seluruh Indonesia, bahkan banyak juga alumni SMA tahun-tahun sebelumnya yang ikut SBMPTN, untuk meraih kursi PTN yang sangat terbatas jumlahnya.
Apa sih bedanya SNMPTN dan SBMPTN?

Disini gue mau mencoba menjelaskan secara gampang aja ya. SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) adalah seleksi yang penilaiannya berdasarkan nilai rapor dan prestasi-prestasi lainnya. Jadi, SNMPTN ini gak ada ujian tulisnya, penilaiannya berdasarkan nilai rapor semester I s.d. V. Sebelum tahun 2013, SNMPTN ini namanya SNMPTN Undangan. Sedangkan, SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) adalah seleksi yang penilaiannya berdasarkan nilai ujian tulis. Jadi, SBMPTN ini prinsipnya adalah ujian tulis. Sebelum tahun 2013, SBMPTN ini dikenal dengan nama SNMPTN Tulis. Semoga jelas ya penjelasan singkatnya!
Ok, let me begin to tell you my long journey!
Dari kecil, gue dari dulu pingin banget jadi dokter. Saat balita, kalo ditanya "Kamu mau jadi apa?," pasti gue bakal jawab "Mau jadi dokter." Namun, gue juga pernah berubah sih cita-citanya. Dulu pas SD gue sempet pingin jadi insinyur. Gak tau kenapa dulu gue pingin jadi insinyur, akhirnya pas SMP saat mulai belajar Fisika dan Biologi (Kimia pas SMP dikit banget, bisa dibilang gak belajar Kimia malah), gue meninggalkan cita-cita menjadi insinyur itu. Gue gak bisa Fisika. Gue lebih suka Biologi. Semenjak SMP, cita-cita gue adalah menjadi dokter.
Cerita Perjuangan Kelas XII menghadapi SNMPTN 2014
-- timejump ke kelas XII semester 2 --
Tibalah saatnya mendaftar SNMPTN 2014. Di saat temen-temen gue masih bingung dengan jurusan yang mau mereka pilih, gue udah sangat fix dengan jurusan yang gue pilih.
Ya, Pendidikan Dokter.
Masalahnya, Pendidikan Dokter di PTN mana? Jujur, semenjak kelas X gue sangat mengidam-idamkan untuk menjadi mahasiswa Universitas Indonesia. Lebih tepatnya, menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. FKUI. Gue pun sering ngomong ke temen-temen gue, "Nanti kita ketemu lagi ya di UI," "Doain gue ya masuk FKUI," "Lo anak FEUI, gue anak FKUI! Aamiin." Namun, apakah gue masih yakin untuk memilih FKUI sampai tiba waktunya untuk mendaftar SNMPTN 2014? Sayang, jawabannya tidak.
Ternyata, banyak juga temen-temen gue yang nilainya jauh lebih tinggi dari gue yang juga memilih Pendidikan Dokter Universitas Indonesia. Lagipula, dari jalur undangan (SNMPTN), FKUI hanya mengambil satu siswa dari sekolah gue, SMAN 78 Jakarta, setiap tahunnya. Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya gue melepas niat gue untuk memilih Pendidikan Dokter Universitas Indonesia di jalur SNMPTN ini.

Setelah memutuskan, gue mencari referensi PTN selain Universitas Indonesia yang Fakultas Kedokterannya mempunyai akreditasi yang sangat baik. Akhirnya, gue memutuskan untuk memilih program studi Pendidikan Dokter di PTN yang berada di bumi Yogyakarta sana. Ya, gue memilih Pendidikan Dokter Universitas Gadjah Mada sebagai pilihan gue di SNMPTN 2014 ini. Modal nekat, karena FK UGM tidak menerima siswa seorang pun lewat jalur undangan dari sekolah gue. Oh iya, sebetulnya gue kurang tepat menggunakan istilah "FK UGM" karena program studi di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada bukan hanya Pendidikan Dokter, melainkan juga terdapat Gizi Kesehatan dan Ilmu Keperawatan, tapi buat mempersingkat, gue pake istilah FK UGM aja ya untuk merujuk ke prodi Pendidikan Dokter nya. Terakhir, FK UGM menerima siswa dari sekolah gue dari jalur SNMPTN Undangan pada tahun 2011. Setelah itu, gak pernah ada lagi yang diterima di FK UGM lewat jalur undangan.

Ah, bisa aja tahun ini ada yang dapet, pikir gue. Selain itu, alumni 78 2013 juga ada yang diterima di FK UGM, tetapi lewat jalur SBMPTN. Siapa tau FK UGM menerima siswa lagi dari sekolah gue lewat jalur SNMPTN karena tahun lalu ada yang masuk FK UGM? Hehehe. Akhirnya, gue fix memilih Pendidikan Dokter Universitas Gadjah Mada di jalur SNMPTN 2014.

Range waktu antara pendaftaran SNMPTN dan pengumuman SNMPTN panjang banget. Gue daftar SNMPTN pertengahan bulan Maret, sedangkan pengumumannya akhir Mei. Digantungin selama 2 bulan lebih oleh Panitia SNMPTN.
Nah, di range dua bulan itu, ada UN di bulan April. Jadi, setelah gue selesai daftar SNMPTN, gue langsung fokus UN. Nah di tahun ini, kabarnya nilai UN jadi pertimbangan buat penilaian SNMPTN. Akhirnya gue berusaha keras buat dapet nilai UN yang memuaskan. UN tahun ini soalnya bener-bener parah susahnya. Susah parah. Karena soalnya sulit, akhirnya gue percaya kalo nilai UN jadi salah satu penilaian untuk SNMPTN 2014.
Cerita Perjuangan Kelas XII menghadapi SNMPTN 2014
Selesai UN, gue langsung lanjut intensif SBMPTN 2014. Intensif SBMPTN ini kerasa banget lamanya, kenapa? Mungkin karena masih menunggu SNMPTN. Karena masih digantungin, akhirnya gue males-malesan belajar intensifnya. Masuk terus sih intensifnya, tapi gue cuma belajar pas intensif di bimbel doang. Gue gak belajar lagi di rumah. Gue cuma murni belajar di bimbel. Kerasa banget males-malesannya, di saat temen-temen gue semangat ikut tambahan pelajaran, gue sering gak ikut. Dengan peringkat rapor gue yang menurut gue cukup progresif dan bagus (semester I: 142, semester II: 32, semester III: 32, semester IV: 13, semester V: 15), gue pede bisa lolos SNMPTN. Gue pede bakal dapat kata "Selamat" di web SNMPTN tanggal 27 Mei 2014. Intinya, gue pede.
Sekitar sebulan gue bermalas-malasan, semakin dekat pengumuman SNMPTN, gue semakin pede. Puncak keoptimisan gue adalah ketika pengumuman UN, gue meraih nilai ujian nasional yang sangat memuaskan, 56.40. Gue cek di link daftar 25 peraih nilai UN tertinggi, peringkat ke-25 mendapat nilai 56.60. Agak nyesek sih, coba aja gue dibenerin 1 soal di Biologi/Kimia/Matematika/Fisika, gue bisa dapet nilai 56.65. Gue bisa masuk di daftar itu. Namun dengan nilai yang hampir menyentuh daftar itu, gue optimis banget. Bahkan, temen gue bilang "Kalo nilai UN beneran jadi penilaian SNMPTN, gue yakin pasti lo dapet lah."
........
Beberapa jam sebelum pengumuman SNMPTN tanggal 27 Mei 2014, gue sangat-sangat deg-degan, tapi gue tetep optimis. Pengumuman diundur 12 jam, dari yang seharusnya sudah bisa dilihat jam 12 malam, diundur jadi jam 12 siang. Ahelah, bikin makin deg-degan aja.
Sekitar jam 11:40 siang, ternyata hasilnya udah bisa diliat di web-web mirror SNMPTN, salah satunya web mirror dari ITS. Sumpah, hp gue rame banget notifnya. Ditambah lagi hp nyokap juga rame banget dari grup orangtua siswa. Ternyata banyak juga yang lolos :") gue juga ikut seneng.. Tapi gue tetep gak mau buka hasilnya dari mirrornya. Gue mau buka langsung dari web SNMPTN dan webnya baru dibuka jam 12 tepat. Jam 12 tepat, ternyata udah bisa diliat pengumuman dari web SNMPTN nya. Sumpah gue gak bisa mendeskripsikan deg-degannya gue waktu itu. Gue mencoba merilekskan diri gue dulu dengan menonton TV.. karena kalo seandainya gue melihat hasilnya dengan keadaan gue yang sedeg-degan itu dan kalo gue gak lulus, gue bisa pingsan kali. *lebay*
Sekitar jam 12:20 akhirnya gue memberanikan diri setelah terus-terusan dipaksa nyokap buat ngeliat hasilnya. Gue ambil laptop yang sudah menyala dari kamar gue dan bawa laptopnya ke kamar ibu gue, lalu langsung membuka browser dan mengetik link web SNMPTN, pencet tombol enter, ternyata tampilannya sudah begini.
Langsung gue ketik nomor pendaftaran dan tanggal lahir gue... 
....
"Bismillahirrahmanirrahim," doa gue dan nyokap gue sebelum mengklik tautan dibawah tanggal lahir.
....
Gue klik LIHAT HASIL SELEKSI
...
Cepet juga websitenya, gak sampe 2 detik langsung keluar hasilnya. Gue scroll sedikit demi sedikit karena kata-kata lolos atau tidaknya terdapat di bawah halamannya jadi harus scroll...

Selamat ya Cup, lo telah di-php-in panitia SNMPTN. Sekali lagi, selamat!

"Gapapa kak, gapapa pasti ada maksud dibalik semua ini," kata nyokap memecahkan keheningan yang ada, tepat setelah gue melihat hasilnya.
Sedih. Kenapa gue harus ngeliat ini bareng orangtua? Seharusnya gue tadi liat diam-diam, tidak dengan ibu gue. Kesel, ternyata FK UGM gak menerima satu siswa pun dari sekolah gue lewat jalur SNMPTN, padahal yang memilih FK UGM di pilihan pertama ada sekitar 7 orang. Kenapa? Apakah sekolah gue kurang bagus? Mungkin, gue gak akan sesedih ini kalo aja ada 1 orang yang diterima di FK UGM walaupun orang itu bukanlah gue. At the very least, ada yang diterima. Kalo aja gue tau FK UGM gak akan mengambil satu siswa pun dari sekolah gue, gue gak akan ngambil FK UGM. Gue bakal mengambil prodi Pendidikan Dokter di PTN lain yang sudah pasti akan mengambil satu orang dari sekolah gue di jalur SNMPTN ini (kecuali UI, karena saingannya berat). Mungkin gue akan mengambil FK UNS, FK UB, FK Undip, atau yang lain kalo tau FK UGM gak mengambil satu siswa pun dari sekolah gue. Namun apa daya, hal itu emang gak bisa diketahui. Nasi sudah menjadi bubur, seharusnya gue lebih bijak dalam memilih prodi dan PTN di SNMPTN.
Gue mencoba buat gak berlama-lama bersedih hati. SBMPTN menunggu 3 minggu lagi, dan gue harus segera melanjutkan perjuangan gue. Gue gak mau menyia-nyiakan nikmat Tuhan yang memberi waktu 3 minggu untuk lebih serius berjuang. Gue mencoba bangkit setelah sekitar beberapa menit meratapi nasib ditolak di jalur SNMPTN. Gue berjanji akan lebih serius berjuang mendapatkan PTN.
 
Cerita Perjuangan Kelas XII menghadapi SNMPTN 2014 Terimakasih sudah menyunjung sSITUS SNMPTN